Category Archives: Wonderful Mountain

Dimanakah Gempa Selanjutnya Akan Terjadi?

Enam gempa besar mengguncang sejumlah wilayah yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api.

Gempa pertama kali mengguncang Jepang pada Kamis (14/4/2016) malam dengan kekuatan 6.5 SR. Disusul kemudian dengan gempa berkekuatan lebih besar, yakni 7.3 SR pada Sabtu (16/4/2016) dini hari dengan pusat di Kota Kumamoto. Kedua gempa tersebut, memicu tanah longsor, menghancurkan jembatan, jalan, permukiman penduduk dengan korban tewas mencapai 41 orang.

Selanjutnya, gempa masih terus mengguncang wilayah Jepang, yakni pada Sabtu (16/4/2016) pagi berada di Distrik Aso tempat Gunung Api Aso berada yang juga menunjukan peningkatan aktivitas vulkanik. Gempa berkekuatan 5.8 SR. Masih di hari yang sama, gempa berkekuatan 5.3 SR mengguncang Perfektur Oita, Jepang pada Sabtu (16/4/2016) sekitar pukul 7 pagi.

Gempa selanjutnya mengguncang belahan dunia lainnya yakni di Ekuador pada Minggu dinihari waktu setempat. Gempa berkekuatan 7.8 SR ini merupakan yang terbesar sejak tahun 1979 ini, berpusat di dekat Kota Muisne. Gempa meruntuhkan bangunan, hingga menewaskan puluhan orang. Gempa ini juga sempat memicu munculnya peringatan tsunami hingga beberapa saat kemudian kembali dicabut.

Ekuador langsung menetapkan status darurat bencana, seiring dengan proses evakuasi serta pencarian para korban yang dimungkinkan masih berada di bawah reruntuhan bangunan.

Gempa besar terakhir yang tercatat yakni mengguncang Tonga, pada Minggu malam, dengan kekuatan 5.8 SR. Meski cukup besar, namun gempa ini tidak terlalu mematikan lantaran sebagian besar kawasan pulau ini tidak berpenghuni.

Lantas apakah ada hubungan antara kejadian gempat tersebut?

Pemetaan sabuk cincin api dari US Geological Survey menunjukan bahwa gempa tersebut, terjadi pada zona subduksi lempeng Pasifik. Meski demikian, US Geological Survey menyebutkan bahwa lantaran jaraknya yang jauh, gempa di Jepang dan Ekuador ini, kemungkinan tidak berkaitan secara langsung.

Apa itu Ring of Fire?

Zona Cincin Api ini merupakan area pertemuan lempeng bumi terutama lempeng Pasifik. Lantaran pertemuan lempeng aktif, maka area ini termasuk ke dalam kawasan rawan gempa. Selain itu, di sepanjang zona subduksi ini terdapat gunung api aktif yang jumlahnya lebih dari 450 gunung api. Inilah yang kemudian melahirkan istilah Cincin Api yakni berupa rangkaian gunung api aktif di sepanjang zona subduksi.

Ring of Fire pulamerupakan rumah bagi lebih dari 75% gunung api paling aktif di dunia. Sekitar 90% gempa bumi dunia dan 81% gempa bumi terdahsyat di dunia terjadi di area Ring of Fire ini.

cincin-api_5_20160418_152240

Kawasan Ring of Fire ini membentang sepanjang 40 ribu kilometer mulai dari Pantai Barat Amerika Selatan, kemudian ke Amerika Utara, Kanada, semenanjung Kamtschatka, Jepang kemudian Indonesia, Selandia Baru dan di kepulauan Pasifik Selatan.

Juga ada istilah sabuk Alpide, yaitu rangkaian pegunungan dari Timor ke Nusa Tenggara, Jawa, Sumatera, lalu terus ke Himalaya, Mediterania, hingga Atlantik.

Bagaimana dengan Indonesia?

Dikutip dari Ekspedisi Cincin Api Kompas, Indonesia termasuk dalam kawasan Ring of Fire, Sabuk Alpide dan tempat bertemunya tiga lempeng benua, Indo-Australia di Selatan, Eurasia di Utara dan Pasifik di bagian Timur.

Bukti paling mengerikan ketika terjadinya gempa bumi dahsyat disertai tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 silam.

Ada pula letusan gunung api yang mengguncang dunia, yakni letusan Tambora di Sumbawa, NTB pada April 1815. Letusan ini menyebabkan bencana di seluruh dunia ditandai dengan gagal panen di Eropa, Amerika serta Kanada. Bencana ini juga dijuluki sebagai Tahun Tanpa Musim Panas.

cincin-api_2_20160418_150017

Serta letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada Agustus 1883 yang mengakibatkan tewasnya puluhan ribu warga.

74 ribu tahun lalu, Gunung Toba di Sumatera Utara juga meletus dahsyat. Saking dahsyatnya, bahkan bencana ini disebut-sebut sebagai peristiwa bencana yang mengubah sejarah bumi.

cincin-api_3_20160418_150137

Total, di tanah air ini, ada 127 gunung berapi aktif. Dari jumlah tersebut, 30 gunung api aktif diantaranya berada di Pulau Jawa yang padat penduduknya.

Bagaimana dengan bencana gempa bumi?

Dikutip dari situs BMKG, Indonesia termasuk daerah rawan gempabumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.

Lempeng Indo-Australia bergerak relatip ke arah utara dan menyusup kedalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatif ke arah barat.

cincin-api_4_20160418_150415

Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi gempabumi besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi menimbulkan tsunami sehingga Indonesia juga rawan tsunami.

Berdasarkan karakteristiknya, gempa bumi ini berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, terjadi pada lokasi tertentu, berpotensi terulang lagi, tidak dapat dicegah, namun akibat yang ditimbulkannya dapat dikurangi. Serta bencana gempa bumi ini belum dapat diprediksi kapan atau dimana terjadinya sehingga diperlukan kesiapan dan mitigasi bencana untuk menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi. (*)

Sumber : Tribun Jogja

Advertisements

Letusan Dahsyat Krakatau Tahun 1883 dalam Kitab Raja Purwa

Letusan gunung Krakatau pada tahun 1883, begitu dahsyat. Menimbulkan gelombang mega tsunami yang membunuh hampir 30 ribu jiwa penduduk yang berada di sekitar selat sunda. Selain itu, letusan ini juga menyebabkan turunnya temperatur bumi secara tiba – tiba sebesar 1 derajat celcius. Selama lima tahun setelah letusan, iklim di bumi diketahui menjadi kacau dan tidak menentu.

Kengerian itu digambarkan oleh Muhammad Saleh dalam Syair Lampung Karam, satu-satunya laporan pandangan mata yang dibuat pribumi tentang letusan Krakatau. Continue reading Letusan Dahsyat Krakatau Tahun 1883 dalam Kitab Raja Purwa

Koin-koin Logam Pun Meleleh Tak Kuasa Menahan Awan Panas Merapi

Rumah luluh lantak, pohon-pohon bertumbangan, harta benda hilang dan nyawa pun melayang. Daerah yang dulunya asri, hijau penuh pepohonan itu pun seketika menjadi wilayah tandus, seperti kota mati tak berpenghuni. Itulah pemandangan yang dapat disaksikan di Dusun Kopeng, Umbulharjo, Cangkringan.

Kawasan ini merupakan daerah yang terkena dampak parah erupsi merapi 2010 silam.

Dua tahun kemudian, hanya tinggal puing bangunan yang terlihat. Rumah – rumah dibiarkan apa adanya, lapuk dimakan usia. Namun, kondisi ini menjadi catatan sejarah penting yang menceritakan betapa dahsyatnya terjangan awan panas dari Gunung Merapi. Continue reading Koin-koin Logam Pun Meleleh Tak Kuasa Menahan Awan Panas Merapi

Benarkah Napoleon Bonaparte Kalah Perang Gara-gara Gunung Tambora Meletus?

Memang terlalu gegabah menyimpulkan hal itu. Namun marilah kita ikuti peristiwa peristiwa bersejarah di sekitar 1815, tahun berakhirnya Perang Napoleon dan meletusnya Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.

wellington_at_waterloo_hillingford

Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis yang baru saja kabur dari pengasingannya di Pulau Elba dan merebut kembali tampuk kekuasaannya dari Louis XVIII, harus menghadapi kondisi cuaca yang tidak mendukung dalam medan pertempuran Waterloo di Belgia. Saat itu tanggal 18 Juni 1815. Continue reading Benarkah Napoleon Bonaparte Kalah Perang Gara-gara Gunung Tambora Meletus?

Runtuhnya Dinding Krakatau Memicu Tsunami Dahsyat Tahun 1883

INDONESIAN TIMELINE – Tahukah kamu, Gunung Krakatau pernah meletus hingga menimbulkan gelombang tsunami dahysat yang menelan korban jiwa hingga lebih dari 36 ribu orang. Tsunami ini menghancurkan wilayah Pantai Lampung Selatan dan Jawa Barat dan efeknya juga terasa di seluruh penjuru dunia.

Verbeek (1884 dan 1885) pernah melakukan penelitian dengan menggunakan gelas ukur di hampir seratus pelabuhan. Menurut dia kecepatan penyebaran tsunami bergantung pada kedalaman laut dan samudera dari studinya mengenai oseanografi . Continue reading Runtuhnya Dinding Krakatau Memicu Tsunami Dahsyat Tahun 1883

Kala Galunggung Meletus, Mendobrak Dinding hingga Berkeping-keping

“…pada suatu ketika Galunggung meletus dahsyat, melontarkan dinding timur tenggaranya menjadi berkeping-keping batu dalam berbagai ukuran hingga jarak ribuan meter dari titik letusnya. Bahan ledakan itu membendung Citanduy di Kota Tasikmalaya sekarang sehingga terbentuk danau”
Continue reading Kala Galunggung Meletus, Mendobrak Dinding hingga Berkeping-keping