Koin-koin Logam Pun Meleleh Tak Kuasa Menahan Awan Panas Merapi

Rumah luluh lantak, pohon-pohon bertumbangan, harta benda hilang dan nyawa pun melayang. Daerah yang dulunya asri, hijau penuh pepohonan itu pun seketika menjadi wilayah tandus, seperti kota mati tak berpenghuni. Itulah pemandangan yang dapat disaksikan di Dusun Kopeng, Umbulharjo, Cangkringan.

Kawasan ini merupakan daerah yang terkena dampak parah erupsi merapi 2010 silam.

Dua tahun kemudian, hanya tinggal puing bangunan yang terlihat. Rumah – rumah dibiarkan apa adanya, lapuk dimakan usia. Namun, kondisi ini menjadi catatan sejarah penting yang menceritakan betapa dahsyatnya terjangan awan panas dari Gunung Merapi.

Habis gelap terbitlah terang, segala musibah pasti ada hikmahnya. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk melukiskan daerah Kopeng ini.

Setelah luluh lantak diterjang awan panas, daerah ini sekarang menjadi daerah tujuan wisata dari berbagai daerah, mulai dari wisatawan domestik maupun mancanegara.

Maklum saja, peninggalan – peninggalan reruntuhan bangunan itu, menarik disaksikan untuk mendapatkan secuil cerita yang tersisa dari bencana yang telah menghancurkan ribuan pemukiman penduduk di kawasan lereng merapi tersebut.

Saat disambangi, bekas – bekas kusen pintu dan jendela yang terbakar masih tampak jelas dengan meninggalkan jelaga dan kayu yang sudah menjadi arang. Beberapa diantaranya sudah habis sama sekali sehingga hanya meninggalkan tembok – tembok rumah yang retak di sana sini berhiaskan jamur yang menghijau. Sementara di bagian dalam rumah – rumah itu, kini penuh dengan rerumputan hijau yang sudah menutupi hampir semua bangunan yang ada.

Adapun di daerah ini, tak hanya ada bekas – bekas bangunan yang hancur saja, tapi juga bisa ditemukan museum swadaya yang dirintis Sriyanto, seorang warga Dusun Petung RT 2 RW 5. Ia memanfaatkan bekas rumahnya yang telah hancur untuk membangun museum yang sangat sederhana yang bernama “Museum Sisa Hartaku”.

Namun begitu, ia memiliki koleksi yang cukup lengkap yang berasal dari harta bendanya yang hancur akibat awan panas. Mulai dari bekas botol yang meleleh, dokumen – dokumen, pakaian, peralatan rumah tangga, gelas, piring, uang logam yang meleleh, sendok yang juga sudah meleleh serta pakaian – pakaian yang sudah hangus sebagian.

Diantara ratusan buah harta bendanya itu, Sriyanto memilih dua peninggalan yang menurutnya memiliki arti paling penting dalam hidupnya. Meliputi kerangka sapi utuh miliknya serta satu buah jam dinding yang menunjukan angka pukul 12 lebih 5 menit 40 detik hari Jumat 5 Nopember 2010.

Jam dinding yang ditemukan dalam posisi terbalik dibawah lapisan pasir merapi itu, mengabadikan saat awan panas menghancurkan kawasan ini. Jarum jam masih menunjuk waktu yang tepat dalam kondisi meleleh terbenam pada bagian dinding jam. Sedangkan kerangka sapi utuh yang ia pajang di depan rumahnya merupakan pemberian mertuanya, tak lama setelah ia menikah.

Benda lainnya yang menggambarkan betapa dahsyat letusan itu, terlihat pada beberapa botol kaca yang menciut saking panasnya. Juga ada koin logam yang meleleh dan beberapa potong baju yang terbakar.

Benda-benda ini, ia pajang sebagai pengingat bahwa pernah terjadi letusan dahsyat yang meluluhlantakan kampungnya, menghancurkan rumahnya, dan merenggut nyawa orang-orang terdekatnya. (*)

Sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s