Mbok Lindu, Penjual Gudeg Tertua di Dunia !

INDONESIAN TIMELINE – Usianya sudah tidak muda lagi, ya bahkan sudah nyaris seabad ! Tapi nenek 15 cucu ini masih begitu cekatan melayani pembeli gudeg racikannya.

Setiap hari, dirinya menggelar lapak dagangannya di depan Hotel Grage Ramayana yang berada di Jalan Sosrowijayan, Yogyakarta, mulai pukul 05 pagi hingga pukul 10 pagi.

Ternyata, setelah kali pertama muncul di media sosial, nenek bernama Mbok Lindu ini langsung termasyur di jagat maya.

Ia bahkan nangkring dalam jajaran headline berita online, dan ditampilkan di halaman depan Koran Kompas.

Sejumlah stasiun televisi juga tak mau ketinggalan menyoroti perempuan berusia 96 tahun ini.

Dikutip dari TRIBUNJOGJA.com, Mbok Lindu tidak ingat secara pasti sudah berapa lama berjualan gudeg. Tetapi dia menceritakan telah berjualan sejak sebelum memiliki suami, saat kolonial Belanda masih menduduki wilayah Indonesia. Dan dari dulu hingga saat ini lokasi jualannya pun tetap sama.

Sembari melayani pembeli, Mbok Lindu bercerita, jika dulu dia harus berjalan kaki dari rumahnya yang berada Klebengan menuju jalan Sosrowijayan dengan menggendong dagangannya.

“Dulu berangkat dari rumah sekitar jam 04.00 pagi. Karena belum ada lampu, saya harus membawa obor. Dagangan dulu saya letakan di pengaron (kwali yang terbuat dari tanah liat) karena belum ada baskom,” cerita Mbok Lindu.

Meskipun usianya telah mencapi 96 tahun, tetapi daya ingatnya masih sangat tajam. Hal tersebut terlihat dari bagaimana dia menceritakan pengalamannya berdagang. Indra pendengaran serta penglihatannya pun juga masih baik, dan sangat lancar diajak berkomunikasi oleh para pelanggannya.

Saat ini setiap harinya nenek yang telah memilik delapan orang cicit tersebut berjualan dengan dibantu anaknya yang bernama Ratiyah (50). Anak bungsunya tersebut membantu membungkus pesanan pembeli. “Jika menjuali pembeli, Simbok tidak mau dibantu. Semua masih dilakukan sendiri,” ujar Ratiyah

Tidak hanya berjualan, memasak seluruh dagangan pun masih dilakukan oleh Mbok Lindu. Dikatakan Ratiyah, siang setelah pulang jualan gudeg Ibunya dengan dibantu dirinya mulai masak hingga sore hari. Setelah matang, masakan dibiarkan berada di atas tungku semalaman, terlebih gudegnya, agar masakan benar-benar tanak.

Proses memasaknya pun masih mempertahankan cara tradisional yakni menggunakan kayu bakar. “Bisanya dalam sehari kami membuat gudeg sekitar 15 kilogram gori (nangka muda.” ungkap Tariyah. Tidak hanya mengolah gudeg, Mbok Lindu juga memasak ayam kampung, telur, dan sambel goreng krecek.

Gudeg yang dijual oleh Mbok Lindu adalah jenis basah, dengan citrasa yang tidak terlalu manis seperti kebanyakan gudeg. Sambal goreng kreceknya memiliki citarasa cukup pedas dengan taburan cabai rawit di atasnya yang sangat pas menjadi pendamping gudeg. Pengunjung bisa menikmati gudeg tersebut menggunakan nasi atau pun bubur sesuai dengan selera.

Satu porsi nasi gudeg racikan Mbok Lindu ini dapat anda nikmati mulai dari Rp. 15 ribu hingga Rp. 25 ribu.

Keahlian meracik gudeg ini diwariskan kepada anak cucunya. Saat ini dua orang menantu Mbok Lindu berjualan gudeg di depan pasar Ngasem, dan pasar Senin Yogyakarta. Serta seorang cucunya yang juga berjualan tidak jauh dari sekitar jalan Sosrowijayan.(*)

Sumber : TRIBUNJOGJA.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s