Misteri Candi Ijo, dari Mantra Kutukan hingga Lokasi yang Tak Biasa

Candi Ijo berada di atas bukit Ijo yang memiliki ketinggian 410 meter diatas permukaan laut. Ini telah menempatkannya sebagai candi tertinggi dibandingkan dengan candi lainnya yang ada di Yogyakarta.

Untuk mencapai candi yang berada di Dusun Groyokan Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan ini, pengunjung harus menempuh perjalanan lebih kurang 2 km dengan medan menanjak. Setelah sampai di kawasan candi yang diperkirakan dibangun pada abad 9 masehi ini, pengunjung pun akan disajikan dengan pemandangan Yogyakarta yang disaksikan dari ketinggian.

Asal mula digunakan nama Ijo untuk menyebut candi tersebut, didasarkan pada nama lokasi candi itu ditemukan. Penggunaan nama Desa Ijo yang berarti hijau untuk pertama kalinya disebut dalam prasasti Poh yang berasal dari tahun 906 masehi.

Di dalam prasasti tersebut ditulis seorang hadirin upacara yang berasal dari Desa Wuang Hijq yang tertulis “…Anak wanua I wuang hijo…”. Jika hal itu terbukti benar, maka nama “ijo” setidaknya telah berumur 1110 tahun hingga tahun 2016 ini.

Kitab – kitab India kuno menyebutkan bahwa pemilihan lokasi untuk didirikan sebuah bangunan kuil dewa dinilai sangat berharga dan lebih utama dibandingkan dengan bangunan kuil itu sendiri.

Di dalam kitab kuno tersebut dinyatakan bahwa tempat tinggal yang paling utama bagi dewa dan manusia yakni lahan yang biasanya berada di lokasi yang subur dan tidak jauh dari mata air.

Di kawasan Prambanan sendiri setidaknya terdapat dua tipe lahan yang berbeda. Yakni di dataran Prambanan dan dataran Sorogedug yang subur.

Sedangkan di tipe lahan kedua berada pada perbukitan sisi selatan yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan selatan.

Sementara Candi Ijo berada pada kawasan yang tidak subur dan jauh dari mata air. Belum ada penjelasan mengenai perbedaan interpretasi antara yang ada di kitab India kuno dengan lokasi Candi Ijo ini.

Secara historis, candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1886 oleh HE Doorepaal, kemudian ditemukan lagi tiga buah arca batu oleh CA Rosemeler.pada tahun 1887 dilakukan penggalian arkeologis oleh Dr J Groneman dan menemukan lembaran emas bertulis, cincin emas serta beberapa jenis biji-bijian.

Candi yang bercorak agama hindu ini memiliki struktur bangunan yang berbeda dengan bangunan di kompleks percandian Prambanan pada umumnya.

Jika di Prambanan memiliki pola memusat ke tengah, Candi Ijo ini memusat ke belakang dengan susunan teras yang berjumlah 11 buah berpusat di punden berundak yang terletak di bagian paling atas.

Bagian itu merupakan kompleks candi yang dianggap paling suci. Ditandai dengan adanya satu candi utama dan tiga candi perwara yang merupakan representasi dari Brahma, Wisnu dan Syiwa.

Di halaman ini pula terdapat empat lingga patok yang berada di sekeliling halaman utama mewakili empat penjuru mata angin. Lingga merupakan titik – titik perpotongan diagram asana yang merupakan diagram kosmis mengenai penataan gugusan candi dalam satu halaman. Diatas pintu candi induk terdapat hiasan kepala kala bersusun.

Sedangkan di depan pintu bagian barat candi terdapat tubuh sepasang naga yang menjulur ke bawah dengan kepala yang menghadap ke arah luar.

Di teras kedelapan, ditemukan dua buah prasasti batu. Pertama berada di atas dinding pintu masuk candi berkode F.

Prasasti setinggi satu meter ini bertuliskan Gulywan sedangkan prasasti lainnya memuat 16 kalimat yang diduga merupakan mantra kutukan yang berbunyi “Om Sarwwawinasa…Sarwwawinasa”.

Jika mengunjungi hingga bagian puncak bukit, maka akan tampak dataran Yogyakarta yang berada di sebelah barat bukit.

Dari ketinggian ini, tampak jelas landasan pacu bandara adisucipto. Sedangkan jika melihat ke arah Selatan, tampak gugusan pegunungan selatan yang memanjang hingga Wonosari, Gunung Kidul.

Terlihat bukit – bukit terjal berbatu yang usianya sudah mencapai jutaan tahun. Berbalik ke arah timur, akan terlihat wilayah Klaten sedangkan jika ke arah utara, tampak pula gugusan bukit lainnya yang menyangga kompleks percandian lainnya semisal Candi Barong dan Situs Ratu Boko.

They Cut The Hill

Keberadaan Candi Ijo tentu menjadi hal yang menarik perhatian para arkeolog untuk mengetahui bagaimana membuat candi yang terletak di puncak bukit ini.

Wajar saja, bangunan candi ini dianggap mampu menjawab segala macam tantangan alam semisal ketinggian lokasi candi.

Bangunan Candi Ijo ini juga sudah menerapkan tata lingkungan, pemanfaatan lingkungan, terasering dan sistem drainase yang maksimal. Sehingga sanggup membuat candi di sebuah lokasi yang memiliki tantangan cukup berat sebagai lokasi bangunan.

Secara arsitektur, para pembuat candi ini seolah memotong bukit kapur hingga menjadi landasan yang stabil kemudian menjadikannya sebagai telatar atau pondasi utamanya. Bukit inilah yang disebut sebagai bed rock atau pondasi dimana bangunan candi bertumpu diatasnya.

Ukuran bed rock sendiri, sama besarnya dengan gugusan perbukitan tersebut, lantaran pada dasarnya pondasi tersebut adalah bukit itu sendiri.

Sumber yang berasal dari Jurusan Geologi UGM Menyebutkan bahwa bukit yang menjadi penyangga Candi Ijo diperkiraan sudah berusia 3 hingga 25 juta tahun. Hal ini diperkuat dengan penemuan materi yang sama persis dengan formasi semilir yang banyak ditemukan memanjang dari ujung barat pegunungan selatan.

Semisal di daerah Pleret, sebalah barat Gunung Sudimoro, Piyungan, Prambanan, Gunung Baturagung hingga ke ujung timur di Gunung Gajahmungkur Wonogiri. Sehingga dengan demikian, diperkirakan usia bukit tersebut sudah mencapai angka jutaan tahun.

Oleh karena itu, deretan bukit tersebut sebenarnya menjadi saksi bagaimana perubahan struktur tanah yang terjadi jutaan tahun yang lalu yang kini didiami oleh warga Yogyakarta.

Bukti – bukti tersebut, bisa disaksikan dengan jelas saat memandang ke arah selatan dari bukit ijo.

Tampak deretan bukit berbatu dengan formasi lurus dan sejajar. Menurutnya, ada kekuatan alam yang sangat dominan yang membentuk bukit tersebut, satu diantaranya yakni oleh aktivitas geologis yang berada di sesar opak.

Saat terjadi gempa bumi dahsyat tahun 2006 lalu, Candi Ijo hanya mengalami kerusakan di beberapa bagian saja. Sedangkan secara struktur masih berdiri kokoh termasuk bukit yang menjadi penyangganya.

Sumber Foto : PegiPegi.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s